Kisah Syaikh Nawawi al-Bantani dan Keramatnya

Mutiara Hikmah

Kisah Syaikh Nawawi al-Bantani dan Keramatnya

Diulas oleh : Abdul Hady Sufyan Atstsaury (Admin)

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني, lahir di Tanara, Serang, 1813 – meninggal di Mekkah, 1897) adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Gambar oleh : 3.bp.blogspot.com

Kelahiran dan Pendidikan

Kelahiran 1230-1314 H / 1815- 1897 M Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815…

Lihat pos aslinya 2.226 kata lagi

Antara Ucapan dan Perbuatan

Antara Ucapan dan
Perbuatan

Bismillahirrahmanirrahim

Media Dakwah Online — Tidak disangsikan lagi bahwa adanya perbedaan antara kata dan realita adalah salah satu hal yang sangat berbahaya. Itulah sebab datangnya murka Allah sebagaimana firman-Nya surat Shaff ayat 2 dan 3.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Allah juga mencela perilaku Bani Israil dengan firman-Nya,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Demikian pula terdapat dalam hadits. Dari Usamah, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan para penceramah, dai dan mubaligh bahkan terdapat hadits khusus. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Saat malam Isra’ Mi’raj aku melintasi sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka.” “siapakah mereka”, tanyaku kepada Jibril. Jibril mengatakan, “mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan tapi mereka lupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?” (HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan Abu Ya’la. Menurut al-Haitsami salah satu sanad dalam riwayat Abu Ya’la para perawinya adalah para perawi yang digunakan dalam kitab shahih)

Dalil-dalil di atas menunjukkan pengingkaran keras terhadap orang yang punya ilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya. Inilah salah satu sifat orang-orang Yahudi yang dicap sebagai orang-orang yang mendapatkan murka Allah disebabkan mereka berilmu namun tidak beramal.

Oleh karena itu, Ibnu Qudamah mengatakan, “Ketika berkhutbah seorang khatib dianjurkan untuk turut meresapi apa yang dia nasihatkan kepada banyak orang.” (Al-Mughni, 3/180)

Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Duhai orang-orang yang memiliki ilmu amalkanlah ilmu kalian. Orang yang berilmu secara hakiki hanyalah orang yang mengamalkan ilmu yang dia miliki sehingga amalnya selaras dengan ilmunya. Suatu saat nanti akan muncul banyak orang yang memiliki ilmu namun ilmu tersebut tidaklah melebihi kerongkongannya sampai-sampai ada seorang yang marah terhadap muridnya karena ngaji kepada guru yang lain.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2/53)

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “tanda kebodohan itu ada tiga; pertama mengagumi diri sendiri, kedua banyak bicara dalam hal yang tidak manfaat, ketiga melarang sesuatu namun melanggarnya. (Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlih, 1/143)

Jundub bin Abdillah Al-Bajali mengatakan, “gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.” (Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih, 1/195)

Bahkan sebagian ulama memvonis gila orang yang pandai berkata namun tidak mempraktekkannya karena Allah berfirman, “Tidakkah mereka berakal?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Sungguh tepat syair yang disampaikan oleh manshur al-Fakih, “Sungguh ada orang yang menyuruh kami untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan, sungguh orang-orang gila. Dan sungguh mereka tidaklah berterus terang.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Berikut ini, beberapa perkataan salafus shalih berkaitan dengan masalah ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih :

Siapa saja yang Allah halangi untuk mendapatkan ilmu maka Allah akan menyiksanya karena kebodohannya. Orang yang lebih keras siksaannya adalah orang yang ilmu itu datang kepadanya tapi dia berpaling meninggalkan ilmu. Demikian pula orang yang Allah berikan kepadanya ilmu tapi tidak diamalkan.

Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Pelajarilah ilmu agama dan amalkanlah dan janganlah kalian belajar untuk mencari decak kagum orang. Jika kalian berumur panjang segera akan muncul satu masa di masa tersebut orang mencari decak kagum orang lain dengan ilmu yang dia miliki sebagaimana mencari decak kagum dengan pakaian yang dikenakan.

Abdullah ibn Mas’ud mengatakan, “semua orang itu pintar ngomong. Oleh karenanya siapa yang perbuatannya sejalan dengan ucapannya itulah orang yang dikagumi. Akan tetapi bila lain ucapan lain perbuatan itulah orang yang mencela dirinya sendiri.

Al-Hasan Bashri mengatakan, “Nilailah orang dengan amal perbuatannya jangan dengan ucapannya. Sesungguhnya semua ucapan itu pasti ada buktinya. Berupa amal yang membenarkan ucapan tersebut atau mendustakannya. Jika engkau mendengar ucapan yang bagus maka jangan tergesa-gesa menilai orang yang mengucapkannya sebagai orang yang bagus. Jika ternyata ucapannya itu sejalan dengan perbuatannya itulah sebaik-baik manusia.”
Imam Malik menyebutkan bahwa beliau mendapatkan berita al-Qasim bin Muhammad yang mengatakan, “Aku menjumpai sejumlah orang tidak mudah terkesima dengan ucapan namun benar-benar salut dengan amal perbuatan.”

Abu Darda mengatakan, “Sebuah kecelakaan bagi orang yang tidak tahu sehingga tidak beramal. Sebaliknya ada 70 kecelakaan untuk orang yang tahu namun tidak beramal.”
Tidak diragukan lagi bahwa permisalan orang yang beramar makruf nahi mungkar adalah seperti dokter yang mengobati orang lain. Satu hal yang memalukan ketika seorang dokter bisa menyebutkan obat yang tepat untuk pasiennya demikian pula tindakan preventif untuk mencegah penyakit pasiennya kemudian ternyata dia sendiri tidak menjalankannya.

Berdasarkan keterangan yang lewat, jelas sudah betapa bahaya hal ini, karenanya menjadi kewajiban setiap da’i dan muballigh untuk memperhatikannya. Karena jika obyek dakwah mengetahui hal ini maka mereka akan mengejek sang pendakwah. Belum lagi hukuman di akhirat nanti dan betapa besar dosa yang akan dipikul nanti.

Sebagian orang tidak mau melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar karena merasa belum melakukan yang makruf dan masih melanggar yang mungkar. Orang tersebut khawatir termasuk orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan.

Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar makruf dan nahi mungkar kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya.” Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah, “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu.” Mutharrif mengatakan, “Aku khawatir mengatakan yang tidak ku lakukan.” Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu, siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan, sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar makruf nahi mungkar.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan, “Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian padahal aku bukanlah orang yang paling shalih dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Untuk mengompromikan dua hal ini, Imam Baihaqi mengatakan, “Sesungguhnya yang tidak tercela itu berlaku untuk orang yang ketaatannya lebih dominan sedangkan kemaksiatannya jarang-jarang. Di samping itu, maksiat tersebut pun sudah ditutup dengan taubat. Sedangkan orang yang dicela adalah orang yang maksiatnya lebih dominan dan ketaatannya jarang-jarang.” (Al-Jami’ Li Syuabil Iman, 13/256)

Sedangkan Imam Nawawi mengatakan, “Para ulama menjelaskan orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar tidaklah disyaratkan haruslah orang yang sempurna, melaksanakan semua yang dia perintahkan dan menjauhi semua yang dia larang. Bahkan kewajiban amar makruf itu tetap ada meski orang tersebut tidak melaksanakan apa yang dia perintahkan. Demikian pula kewajiban nahi mungkar itu tetap ada meski orangnya masih mengerjakan apa yang dia larang. Hal ini dikarenakan orang tersebut memiliki dua kewajiban, pertama memerintah dan melarang diri sendiri, kedua memerintah dan melarang orang lain. Jika salah satu sudah ditinggalkan bagaimanakah mungkin hal itu menjadi alasan untuk meninggalkan yang kedua.” (Al-Minhaj, 1/300)

Ibnu Hajar menukil perkataan sebagian ulama, “Amar makruf itu wajib bagi orang yang mampu melakukannya dan tidak khawatir adanya bahaya menimpa dirinya meskipun orang yang melakukan amar makruf tersebut dalam kondisi bermaksiat. Secara umum orang tersebut tetap mendapatkan pahala karena melaksanakan amar makruf terlebih jika kata-kata orang tersebut sangat ditaati. Sedangkan dosa yang dia miliki maka boleh jadi Allah ampuni dan boleh jadi Allah menyiksa karenanya. Adapun orang yang beranggapan tidak boleh beramar makruf kecuali orang yang tidak memiliki cacat maka jika yang dia maksudkan bahwa itulah yang ideal maka satu hal yang baik. Jika tidak maka anggapan tersebut berkonsekuensi menutup pintu amar makruf jika tidak ada orang yang memenuhi kriteria.” (Fathul Baari, 14/554)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tentunya Semua Menyimpan Hikmah Yang Besar !

Tentunya Semua Menyimpan Hikmah
Yang Besar !
_________________________________
Oleh : Umar bin Zain Assegaf
.
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh
.
Saudarai-saudariku seakidah, semoga di
rahmati Allah. Mari kita simak bersama
tausiyah ini, semoga ada hikmahnya bagi
kita semua. (Dari Artikel yang dishare ke
grup Aswaja)
.
Ada sedikit kemiripan antara NKRI dgn
Negri2 berpenduduk Muslim di Timur
Tengah semacam Iraq, Suriah, Libia,
Yaman dll
Yaitu meski Muslimin bermacam-macam
faham tapi Mayoritas Penduduknya adl
Aswaja
Tapi pertanyaan nya, bagaimana bisa
Mereka, Negri-negri itu sangat mudah
tersulut perang, hingga hancur & terpuruk,
dgn banyak korban dari sesama muslim
sendiri
Sedang NKRI meski, tidak henti-hentinya
selalu didera isue-isue provokative dari
penganut faham radikal, dari isue kristen
bantai umat islam,isue Bid’ah, Kurofat,
Musyrik, isue PKI, isue Syiah mau makar
dll, NKRI masih adem ayem
Tidak bisa dipungkiri peran Ulama sangat
berpengaruh besar dlm hal ini,
Alhamdulillah Ulama-ulama kita, baik dari
Habaib maupun Kyai nya, baik dari NU
maupun Muhammadiyah nya tidak mudah
terpancing dengan provokasi yg deras
menerpa umat
Kaum Aswaja yg dari dulu diserang terus
amaliyahnya dgn sebutan Bid’ah, Musyrik,
Penyembah Kubur dll, selalu santai dan
menanggapi dgn ilmiah
Tidak berhasil dgn pola spt itu, provokasi
berganti dgn isue Non Muslim, tapi umat
juga tidak begitu responsif dan mengatasi
dgn dewasa
Kemudian mulai diangkat isue Syiah yg
berhasil di negri timur tengah, di NKRI pun
ternyata gagal
Akhirnya para Radikalis ini faham bener,
bhw kekuatan Umat Islam NKRI adl pada
Ulama nya
Khususnya lagi adl Aswaja, yg lebih
khususnya lagi adl NU
Dan satu-satu nya cara agar Kesatuan
Umat Islam NKRI ini hancur adl dengan
pecah belah sesama Ulama nya
Karena mrk faham betul soal Hirarki
Ulama baik Habaib maupun Kyai atas
umat ini
Maka mulailah mrk berjuang untuk pecah
belah Umat yg Mayoritas Aswaja dgn
mengangkat Isue-isue yg membuat konflik
antar Aswaja sendiri
Dan “tangan-tangan” jahat mulai bermain
dgn isue-isue tadi, berperan sbg “bensin”
yg bakar sana dan bakar sini
Targetnya kpd Para Ulama adl “timbulkan
ketidak harmonisan antar ulama aswaja”
Dan kepada umat adl, “jatuhkan
kredibilitas ulama dimata umat”
Tentunya semua skenario pecah belah
tadi dibungkus rapi atas nama “sampaikan
yg haq”
Perdamaian & Tatanan Masyarakat yg
penuh Kesejukan sudah lama terjaga akan
dirusak oleh para pengusung faham
radikalis ini, dan jika kita ikut masuk
terbawa isue2 yg diangkat mrk, maka
secara tdk langsung kita juga berperan
menghancurkan tatanan kedamaian tadi.
.
Cukup Suriah, Libia, Iraq, Yaman dll
menjadi pelajaran bagi kita semua,
betapa “MAHALNYA” harga sebuah
Kedamaian, betapa “INDAHNYA”
Memahami sebuah Perbedaan
Cukup bagi kita melihat para wanita, anak-
anak dan saudara kita disana mati krn
sebuah ego, karena sebuah kepentingan
pihak2 yg tdk bertanggung jawab, sedang
mrk tidak faham apa-apa.
.
Cukup bagi kita, sebuah riwayat yg
menyebutkan “JIKA ALLAH MENGHENDAKI
NISCAYA AKAN DIBUATNYA SELURUH
MAKHLUQ ITU BERIMAN DAN PATUH
KEPADA NYA”
Allah SWT yg Maha Memaksa tidak
membuat HambaNYA ini seragam, semua
sama, semua beriman & bertaqwa.
.
Tentunya semua menyimpan Hikmah yg
besar, salah satunya adl untuk melihat
siapa yg berjuang dlm kebaikan, dan
bagaimana cara kita mensikapi perbedaan
itu sendiri
.
Bukan kah kita disuruh mencontoh &
berakhlaq spt yg diajarkan oleh Allah
SWT ?
Ajaran mana yg boleh memperkosa
wanita hanya krn beda faham, sedang
Nabi SAW sangat perhatian thdp
keselamatan wanita ?
Ajaran mana yg membiarkan anak-anak
terbunuh & terlantar sedang Nabi SAW
sangat menyayangi anak-anak ?
Ajaran mana yg mengorbankan org2 tua
sedang Nabi SAW selalu menghormati
org2 tua ?
Ajaran mana yg menghalalkan darah
sesama muslim sedang kpd musuhnya
saja Nabi SAW tidak berperang kecuali
karena Allah SAW, tdk berjihad kecuali
atas dasar Rahmat ?
Jika faham radikalis ini atas dasar Sunnah,
maka Sunnah siapa yg dicontoh ?
Jika atas dasar Al Quran, Surat dan Ayat
mana yg diambil ?
Sedang di Al Quran, Firaun saja yg jelas
mengaku Tuhan, Nabi Musa disuru
berlemah lembut padanya.
.
Apakah dengan judul, kafir, sesat, bukan
islam terus di Sunnah kan untuk dibantai ?
Dibunuh anak-anak nya, dibakar
rumahnya ? Diculik anak gadisnya dan
diperkosa ?
Sunnah siapa ini ? Nabi mana yg
mengajarkan spt ini ?
.
Apa arti Wahabi bagi anak-anak kecil yg
polos, yg dunia mrk hanya bermain &
bercanda, haruskah mrk menderita krn
sebuah faham yg dipertentangkan org2 yg
mrk sendiri tdk kenal ?
.
Apa arti Syiah bagi para wanita yg
hidupnya hanya mengurus rumah tangga,
yg fokusnya melayani anak-anak, suami &
keluarganya, haruskah mrk disakiti krn
konflik faham yg mereka sendiri tidak
ambil pusing dgn hal itu ?
.
Apa arti Ahlussunnah bagi org2 diluar
Islam, yg terdiri dari anak2, wanita2, org2
tua dan ayah2 yg kehilangan seluruh
kehidupan nya & kehormatan nya, habis
bersih atas nama jihad ?
.
Bukankah “Pedang” para “Mujahiddin”
tidak pernah meleset, tdk pernah salah
sasaran ?
.
Bukankah wasiat Nabi SAW dlm setiap
perang agar selalu menjaga para wanita,
anak2 bahkan pohon2 dan segala hal yg
tdk ada hubungan nya dgn perang tidak
boleh disakiti ?
.
Sudah kah mrk membaca itu semua ? atau
memang itu sebuah kesengajaan demi
melampiaskan nafsu, kebencian &
kepentingan dunia ?
.
Kita tahu dengan pasti bahwa Ajaran
Aswaja tidak seperti itu..
.
Kita tahu pasti bahwa Ajaran Aswaja tidak
pernah mengkafirkan sesama muslim.
.
Kita tahu bahwa Ajaran Aswaja utamakan
Rahmat, Penuh Toleran & Kasih Sayang..
.
Tapi, tahukah kita bahwa “bibit”
perpecahan sesama Aswaja adalah cikal
bakal terjadinya kehancuran kelak ?
.
Tahukah kita bhw sengketa diantara
Ulama yg dihembuskan terus menerus
akan berakibat hal yg sama, entah
puluhan tahun kedepan.
.
Tahukah kita bhw itu semua seperti bola
salju, saat ini hanya hal kecil seputar khilaf
yg diperdebatkan, tapi akibatnya nanti
mengerikan.
.
Oleh karena itu, marilah kita menahan diri
dalam setiap perbedaan
Menjaga Persaudaraan lebih utama
daripada menjaga sunnah, krn
menghancurkan hati seorang muslim lebih
dahsyat dosa nya daripada
menghancurkan Kakbah
Jadi marilah kita mulai “UTAMAKAN
KESATUAN”, selalu Waspada jangan
sampai terseret diajak membahas yg
sebenarnya itu ” JEBAKAN ” mereka para
Radikalis, yg kalau kita tdk menyadari bhw
target akhirnya nanti adl menghancurkan
kesatuan di NKRI
Semoga kita semua semakin dewasa dan
semakin bijak dlm bersikap, dlm berbicara
dan dlm berbuat saat menghadapi
perbedaan
Wassalam …..
_______________________________
Umar bin Zain Assegaf

Puisi Bersimpuh Dalam Do’a

Bersimpuh Dalam Do’a
_________________________

Wahai hati yang gundah…
Bersabar­­lah tak usah resah nan gelisah…
Simpan saja kegelisahan dalam senyum meski terasa sumbang… Tapi semoga saja menguatkan dalam menapaki hari demi hari…
.
Wahai hati yang resah…
Belajarla­­h untuk selalu bersabar…
Yakinlah… ALLAH mempunyai rahasia terindah untuk mengganti setiap tetes air mata yang jatuh disujud malammu…
.
Wahai hati yang risau…
Teruslah bersabar dan ikhtiar…
Teguh­­lah dalam do’a dan luruslah dijalan-Nya…
Keb­­ahagiaan menunggumu di depan sana…
.
Wahai hati yang lusuh…
Janganlah berhenti bersabar…
Terus­­lah mencari cahaya cinta-Nya agar bisa membasuh hatimu dan membersihkanmu dari kehinaan…
Kemana lagi akan berlari…?
Kemana lagi akan bersembunyi…?
Hanya ALLAH sebaik-baiknya tempat mengadu…
Hanya ALLAH sekuat-kuatnya tempat bersandar…
Hanya ALLAH setulus-tulus yang Mendengar…
Dalam segenap kelembutan hati, pasrahkanlah semua pada-Nya…
Semoga­­ ALLAH menyinari hati dengan pancaran cahaya kasih-Nya, agar hati kembali terang menatap masa depan…
.
Dalam kesungguhan do’a… Bersimpuhlah…
Se­­moga ALLAH memenuhi do’a kita. Aamiin­­ Yaa Rabbal’aalamiin 

Kata Mutiara Ungkapan Untuk Istri Tercinta

Kata Mutiara Ungkapan Untuk Istri Tercinta

untuk-istriku-tercinta.jpg

Istriku… Aku jujur tidak akan pernah mengambil bunga di tepi jurang itu, hanya untuk membuktikan sayangku padamu.

Aku tidak akan pernah membahayakan diri saya hanya untuk menyenangkan hatimu.

Istriku tercinta, namun satu harga mati yang tak bisa kupungkiri, bahwa kau adalah amanah Allah.

Percaya dan yakinlah dengan segenap cinta yang kumiliki, aku takkan pernah mensia-siakanmu di dunia apalagi di akhirat kelak. Aku tak mau jadi penghianat, apalagi kalau yang dikhianati adalah Allah.

Duhai istriku, wanita yang telah Allah takdirkan untuk menjadi ibu dari anakku.

Sembahlah Allah semata, jangan pernah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun yang ada dilangit dan dibumi.

Cintailah Allah melebihi kecintaanmu kepadaku.

Hanya Allah-lah yang berhak untuk kita cintai melebihi apapun.

Janganlah kecintaanmu kepadaku dan anak kita membuat engkau lalai dari mencintai Allah.

Cintailah Allah karena Allah tidak akan pernah menginggalkanmu.

Duhai istriku,engkau adalah pakaian untukku, engkau adalah penutup segala aibku.

Ketahuilah bahwasannya junjungan kita Rasulallah Shallallahu A’laihi wa Sallam telah bersabda bahwa seindah-indahnya perhiasan didunia ini adalah istri yang sholehah.

Maka, jadikanlah aku laki-laki yang berbahagia karena memiliki perhiasan yang terindah didunia.

“Terima kasih ya Allah, Tuhan pemilik bumi. Engkau telah berikan aku istri yang baik hati. Istri yang sholehah, istri yang mau menerima suaminya apa adanya. Melayani dengan penuh kasih dan sayang.”

Atas Nama Allah… I LOVE YOU, istriku tercinta.

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

suami-istri-001.jpg

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara dia langsung dihadapkan oleh tugas-tugas yang sudah menunggunya, membereskan rumah, memikirkan makanan apa yang harus dihidangkan hari ini atau bahkan bersiap untuk berangkat kerja sedangkan anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya yaitu membantu mencari nafkah.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannya yanq bikin sakit. Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak bolehbermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui dan dihargai meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi SAW pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yangdipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukanhanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada juga perasaan aman dan dilindungi dalam kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya baik secara materi dan non materi.

Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain, pengakuan dan penghargaan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu.lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata.

Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?” Sulit melakukan ini?

Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly;tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. A’laa kulli haal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih.

Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya.

Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya,Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan.

Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu.

Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,” kata Rasulullah Saw.melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dankalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. “Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan sayasebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.


Demikianlah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Tips Menautkan Aktivitas Facebook, WordPress, dan MyWapBlog ke Situs Jejaring Sosial

Tips Menautkan Aktivitas Facebook, WordPress, dan MyWapBlog ke Situs Jejaring Sosial

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat kreatif, selamat berjumpa di postingan ini. Kali ini insya Allah saya akan memberi terobosan untuk mempermudah settings cara menautkan Facebook dan Blog ke situs jejaring sosial lainnya.

Ada banyak pertanyaan yang saya terima.

– Bagaimana cara menautkan akun Facebook ke Twitter?

– Bagaimana cara menautkan Akun Facebook Halaman atau Facebook Fanspage ke Twitter?

– Bagaimana cara menautkan Blog WordPress ke Google Plus, Facebook dan Twitter?

– Bagaimana cara menautkan Blog MyWapBlog ke Facebook dan Twitter? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Insya Allah secara simpel, saya buatkan tutorial ini. Silakan di simak cara-caranya, sbb ;

Facebook Tertaut ke Twitter

facebook-twitter.jpg

Untuk menautkan akun Facebook dan akun Halaman atau Facebook Fanspage ke Twitter, masuk DISINI

Baca info selengkapnya di -[Pusat Bantuan Facebook]

WordPress Tertaut ke Facebook, Twitter, Google Plus Dll

logo-wordpress.jpg

Untuk menautkan Blog WordPress ke situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Google Plus, dll, copy URL di bawah ini dan paste di address-bar dan klik “Go To” atau “Pergi”;

https://—nama pengguna—.wordpress.com/wp-admin/options-general.php?page=sharing

Baca juga artikel -[Tips Cara Membuat Blog Gratis di WordPress ]

MyWapBlog Tertaut ke Facebook dan Twitter

mywapblog-smartphone-logo.png

Cara menautkan Blog MyWapBlog ke Facebook dan Twitter, masuk DISINI

Untuk info seputar Tips dan Trick yang lainnya, selengkapnya simak di [Tips dan Trick MyWapBlog]

Semoga bermanfaat.

Aku Ingin Sepertimu Ukhti

Aku Ingin Sepertimu Ukhti

Ukhti…
Entah dari mana aku memulainya,sungguh
aku sebenarnya kagum padamu.
Aku kagum akan keteguhan imanmu.
Kagum akan lembutnya tutur sapa mu
yang sangat menenangkan jiwa setiap
orang yang mendengarnya. Sungguh nyata
perhiasan dunia yang Allah telah janjikan
surga untukmu kelak.

Begitu lurus niatmu untuk benar-benar
berdakwah di jalan Allah tanpa berharap
kau dipuja atas keshalehaan mu itu.
Rajin mengikuti berbagai macam kajian
tanpa memandang jarak ataupunsiapa
pembicaranya dan apa temanya.

Bagimu semua itu ilmu yang bermanfaat
untuk bekal mu di akhirat nanti.
Sabarnya sikapmu kadang juga buatku iri
ukhti. Banyak yang mencibirmu
membicarakanmu dari belakang
memandang sinis atas penampilanmu
yang menurut mereka gak anak muda
banget deh. Berbusana syar’i berhijab
besar sesuai aturan-Nya,itulah kamu
ukhti. Menurut mereka yang dalam
jajaran anak gaul berbusana sepertimu
adalah hal aneh ukhti. Mereka bangga
dengan kehidupanya yang serba mewah.

Setiap saat selalu bersenang-senang tanpa
pernah mereka melatih nafsunya untuk
berpuasa. Merasakan apa yang
fakirmiskin rasakan setiap harinya.
Jangankan berpuasa,bahkan dia lupa
untuk beribadah kepada penciptanya.
Astagfirullah.

Hidupmu hanya berorientasi pada ibadah
kepada Allah swt. Menjalankan sunah
Rasul dengan ikhlas dan istiqomah
semata-mata hanya untuk beribadah
bukan yang lainya. Menahan hati tak
memberi ruang bagi yang belum halal
bagimu. Menahan nafsu dari manisnya
rayuan pria yang ingin menggoyahkan
imanmu. Engkau selalu yakin bahwa
jodoh,maut,dan rejeki manusia sudah ada
yang mengatur,Allah swt yang Maha Besar
dan Maha Segalanya yang telah
mengaturnya. Tak ada sediktpun
kerisauan didalam dirimu akan hal itu.
Sehingga engkau tetap focus pada ibadah-
ibadah lainya.

Ukhti…
Andai semua wanita di muka bumi ini
sepertimu betapa senang nya Allah saw
telah menciptakan kita sebagai manusia
yang taat dan berguna. Kita akan bertemu
Allah dengan hati tenang karena didunia
kita taat akan aturan-Nya.

Semoga aku juga bisa belajar dari mu
ukhti,lebih taat kepada Allah dan
menjalankansunah-sunah Rasul yang
belum sempat aku lakukan.
Aamiin…